Opinion Peblika

Opinion Peblika
Suasana Foto Galian Tanah Tambang C Tanpa Melalui SRKL dan AMDAL di Wakatobi

Senin, 11 Juli 2011

ANTARA PENGETAHUAN DAN KEBENARAN

 OLEH : ALI HABIU



I. PENDAHULUAN
Ketika kita lahir ke dunia, apakah anda telah tahu akan sesuatu ?. Terlahir seperti kertas putih, “tabula rasa”, demikian kata John Locke. Ketika manusia melihat atau mengalami suatu peristiwa, terdorong naluri untuk ingin tahu, iapun bertanya : apakah ini ?. Dari mana datangnya ?, Apa sebabnya demikian?, Mengapa demikian?. Manusia yang semula tidak tahu berusaha untuk tahu dan kemudian mencari tahu, hingga keingin tahuan itu terpenuhi. Jika keingintahuan terpenuhi, untuk sementara ia merasa puas. Namun banyak hal-----tampak maupun tidak, ada yang mungkin ada, yang berarti masih harus diuji kebenarannya----mengelilingi manusia. Hal ini kembali mendorong naluri ingin tahu, membuat pertanyaan lain terus bermunculan. Sepanjang hidup, manusiapun bertanya, berusaha mengetahui segala sesuatu, termasuk hal-ihwal diri sendiri. Demikian…, sepanjang hidup manusia dirangsang oleh alam sekitarnya untuk tahu. Yang terutama terkena rangsangan adalah indranya : seperti penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran serta pengecapan. Hasil persentuhan alam dengan panca indra disebut : pengalaman. Pengalaman ketika tersentuh rangsangan, manusia bereaksi. Reaksi ini dicetuskan dengan pernyataan, misalnya : bahwa mangga itu masam, bunga itu wangi atau kopi itu pahit. Namun, pengalaman semata tidak bisa membuat seseorang menjadi tahu. Pengalaman hanya memungkinkan seseorang menjadi tahu. Hasil tahu itu disebut pengetahuan. Pengetahuan ada jika manusia demi pengalamannya mampu mencetuskan pernyataan atau keputusan atas obyeknya : bahwa mangga itu----yang satu itu masam !. Dengan kata lain, orang tidak dapat menmberikan pernyataan atau keputusan demi pengalamannya dikatakan tidak berpengetahuan (Poerdjawijatna, 1983 :14-16). Apabila pengetahuan tidak sesuai dengan obyeknya, disebut keliru. Sebaliknya jika pengetahuan sesuai dengan obyek, maka dikatakan benar. Persesuaian antara pengetahuan dengan obyek dinamai kebenaran. Ketika anda memberi putusan tentang Alihabiu, Oh…, saya tahu, Alihabiu itu yang berambuk lurus dan tidak berkumis tipis. Artinya, terdapat ketidaksesuaian antara tahu dan obyeknya. Maka dikatakan bahwa Anda keliru. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyek, yakni pengetahuan obyektif atau kebenaran obyektif : adanya persesuaian antara tahu dengan obyeknya. Pengetahuan yang salah ialah pengetahuan yang tidak sesuai dengan obyeknya, yaitu pengetahuan subyektif atau kebenaran subyektif : tidak adanya persesuaian antara tahu dengan obyeknya. Oleh karena itu, suatu obyek memiliki banyak aspek, sukar mencakup keseluruhannya. Artinya, sulit mencapai seluruh kebenaran. Yang penting, sekurang-kurangnya pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan aspek yang diketahui. Jika seseorang tidak tahu tentang salah satu aspek dari satu obyek, ia bukan keliru melainkan dikatakan bahwa pengetahuannya tidak lengkap. Kekeliruan baru terjadi jika manusia mengira tahu tentang suatu aspek, tetapi aspek itu tidak ada pada obyeknya : dinyatakan bahwa Alihabiu berambut lurus tidak berkumis nyatanya berambut ikal dan berkumis. Sehubungan dengan persesuaian antara pengetahuan dan obyek yang dinamakan kebenaran tersebut, pembahasan pada makalah ini akan di uraikan dan dibatasi lebih spesifik tentang Kebenaran Obyektif dan Kebenaran Subyektif yang dikonteskan seseorang untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan. 

II. PEMBAHASAN 

A. KEBENARAN OBYEKTIF 
Kaum obyektif berasumsi bahwa prinsip-prinsip kebenaran tidak bergantung pada waktu, tempat dan hal-hal tertentu. Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh ahli ilmu pengetahuan diperoleh data bahwa semua benda dalam alam semesta ini bergerak. Prion dan bermacam-macam jasad renik lainnya seperti virus, bakteri dan protozoa bergerak. Tujuan utama adalah mencari makan. Berbagai sistem organ dalam organisme yang lebih kompleks seperti manusia, binatang selalu bergerak supaya organisme itu tetap hidup, artinya dari hasil penelitian didapatkan data bahwa setiap mahluk yang ada dijagat raya ini saling berhubungan satu sama lainnya. J.G.Fitche menggambarkan generasi dari pengetahuan. Fenomena dunia adalah dihasilkan oleh semangat sebagai subyek. Yang dibawah keluar dari dunia itu sendiri. Sekumpulan obyek yang ada di dunia bertentangan antara satu dengan yang lainnya, tergantung atas siapa yang menemukannya. Beberapa analisa dari J.G.fitche telah mencoba untuk memperbaharui secara ilmiah dalam proses menghasilkan ilmu pengetahuan meskipun penemuannya banyak menuai tantangan dari para ahli sesudahya. Thomas Khun menyarankan bahwa pengetahuan adalah legitimasi melalui perjuangan politik antara ahli ilmu pengetahuan murni dengan para ahli pengetahuan yang tidak murni (baca :tidak jujur/tidak masuk akal). Ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh metode mana yang dipercaya yang menjadi sumber apakah rasionalisme atau empirisme tergantung dari obyek studi. Oleh karena itu epistemologi merupakan bidang filsapat ilmu yang mempersoalkan tentang hakikat kebenaran, mengingat semua pengetahuan akan mempersoalkan tentang kebenaran. Empirisme merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakekatnya berdasarkan pengalaman atau empiris melalui alat indra. Empirisme menolak pengetahuan yang semata-mata berdasarkan akal karena dipandang sebagai spekulasi yang tidak berdasarkan realitas sehingga beresiko tidak sesuai dengan kenyataan. Pengetahuan sejati harus berdasarkan kenyataan sejati sebagaimana yang telah dikembangkan oleh John Locke, Berkeley, David Hume. Rasionalisme merupakan aliran yang telah lama dikembangkan oleh para pemikir filsafat, yang dimulai sejak filsafat Plato dengan membicarakan tentang akal ternyata dapat mempengaruhi budi pekerti. Kemudian menyusul Aristoteles yang menyatakan bahwa akal adalah kekuatan yang tertinggi dari jiwa manusia, sampai dengan perkembangan sesudahnya yang dikembangkan oleh Hobbes (1651-1762). Aliran Rasionalisme merupakan paham yang menekankan rasio atau kerja akal yang selanjutnya disebut logika sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Akal merupakan otoritas terakhir dalam menentukan kebenaran. Rasionalisme telah terbit sejak zaman yunani kuno, dimana dimasa itu jenis pengetahuan manusia pada umumnya filsafat dan ilmu hitung yang saat ini disebut ilmu hitung atau metamatika dan statistika. Pengetahuan yang ada saat ini diperoleh secara langsung melalui sumber kemampuan indra penemunya dan secara tidak langsung melalui tahapan penyimpulan akal pikirannya. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tingkat kepastian kebenaran akan diperoleh secara berbeda-beda. Perbedaan itu dapat diuraikan sebagai berikut : • Pertama : Perbedaan ditentukan oleh “kemampuan pengindraan” dari setiap orang. Kemampuan pengindraan setiap orang dipengaruhi oleh posisi dan kepentingan masing-masing terhadap obyek studi. Kondisi ini masih ditambah lagi dengan fakta bahwa setiap organ indrapun mempunyai kemampuan yang berbeda-beda bahkan sering bertentangan antara satu organ dengan organ lain. Secara medis dapat dibuktikan bahwa semua manusia para ahli atau pemikir memiliki berat otak di atas 1350 gram yang jauh lebih berat jika dibanding dengan berat otak manusia bukan ahli atau pemikir hanya memiliki berat rata-rata 1200 gram. Sehingga dari sejumlah sel-sel otak yang berat tersebut dapat menghasilkan kemampuan pengidraan, pluralitas pengetahuan mencerminkan adanya pluralitas kebenaran. • Kedua : Perbedaan ditentukan oleh “kemampuan akal fikiran” yang berbeda-beda bagi setiap manusia. Setiap internal genetik manusia memiliki bakat kecerdasan setiap subyek berbeda-beda tergantung dari faktor gens dan asal keturunan manusia itu. Dan secara eksternal terhadap setiap subyek manusia, bahwa pengaruh lingkungan pergaulan dan alam juga amat berbeda-beda kualitas dan kuantitasnya. Semua kondisi ini akan menentukan kualitas subyek terhadap obyeknya. Oleh karena itu dalam rangka mendapatkan kebenaran yang dapat dipercaya, maka cara mengetahui kebenaran menurut pengindraan harus dikembalikan pada sikap obyektif pelakunya. Dengan sikap subyektif, selanjutnya pelaku harus mampu menarik kesesuaian dari setiap optimasi indranya. Disamping itu agar kebenaran yang diperoleh lebih dapat dipercaya, maka akal pikiran harus mampu bekerja secara intensif dan konsisten dalam melakukan analisis dan sintesis obyek. Berdasarkan kedua cara pandang tersebut, persoalan kemudian muncul adalah apa yang sebenarnya dapat diketahui manusia baik melalui pengindraan maupun melalui akal pikiran itu. Persoalan ini muncul disebabkan bahwa baik indra maupun akal pikiran selalu berada dalam keterbatasan. Padahal obyek pengetahuan didalam diri seseorang memiliki bagian-bagian baik jenis dan sifatnya cenderuing tak terbatas. Berdasarkan fakta ini maka postulat dapat disimpulkan bahwa kebenaran pengetahuan mengenai suatu obyek hanya dapat diperoleh sebatas kemampuan pengindraan dan akal pikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan sejati atau paripurna mengenai kebenaran suatu obyek adalah di luar jangkauan manusia. Manusia mempunyai sifat dan bawaan yang selalu ingin tahu tentang apa saja---sampai pada tingkat yang paling hakikipun. Dorongan ingin tahu seperti ini sehubungan dengan kodrat manusia untuk selalu ingin mengetahui rahasia alam semesta dimana lingkungan dia berada. Melalui indra dan kemampuan akal pikiran manusia akan membentuk kepribadian ilmu kedalam dua karakter, yakni : empiris dan rasional. Proses metodik dalam rangka memperoleh kebenaran, secara epistemologis harus ditopang dengan sebuah sistem. Sistem akan menghubungkan secara teratur dan konsisten antara bagian-bagian yang akan membentuk suatu bangunan yang utuh. Dalam ilmu pengetahuan sistem diperlukan agar obyek formal dalam penyelidikan lapangan dan cara kerjanya tetap dalam konsistensi dan keteraturan. Adanya corak ragam perbedaan obyek materi dalam ilmu pengetahuan akan tersatukan dalam sistem interdisipliner. Dan corak ragam perbedaan dalam metode ilmu pengetahuan akan tersatukan dalam metode ilmiah. Kebenaran ilmiah akan ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanya teori yang menunjang dan dapat dibuktikan dengan bukti empiris dari hasil uji lapangan. 

B. KEBENARAN SUBYEKTIF 
Obyektivitas sebagai suatu hierarki mengungkapkan bahwa seorang ahli ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab pribadi tentang ilmu pengetahuan yang mereka temukan. Jika seseorang ahli ilmu pengetahuan mengajukan proposal penelitian kemudian tidak mendapatkan legitimasi atau proposal ditolak, kemudian mereka tetap memaksakan hal itu untuk diterima dan tetap melakukan penelitian, maka ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari hasil penelitiannya bisa keluar dari jalur standar kontrol. Pada kondisi demikian, penemuan ilmu pengetahuan yang didapatkan kemungkinan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena tidak dapat ditunjang oleh syarat-syarat ilmiah (teori, instrumentasi dll). Namun penemuan ilmu pengetahuan pada katagori ini merupakan penemuan ilmiah yang hanya dipertanggungjawabkan secara pribadi. Pada kondisi demikian ini hasil temuan ilmiah yang diperoleh merupakan kebenaran subyektif. Para ahli ilmu pengetahuan barangkali tidak mampu memprediksi konsensus dari pengetahuan yang mereka telah legitimasikan. Kaum obyektif memberi kebebasan kepada para ahli ilmu pengetahuan terhadap kesepakatan yang mereka telah bangun. Sedangkan kaum subyektif harus terlebih dahulu meminta secara tegas kepada semua aktor atau pelaku ahli ilmu pengetahuan untuk senantiasa harus dapat menerima hasil penemuan yang mereka telah lakukan. Pada zaman dahulu kala, terdapat kebingungan dari para ahli ilmu pengetahuan dari kaum obyektif dalam melihat kenyataan atas suatu pandangan terhadap kehidupan dunia fana ini---ketika mereka melihat sebuah benda yang memiliki warna, bau dan kotor yang belum bisa diukur secara rasional. Pada kondisi demikian kaum subyektif melihatnya melalui pandangan empirisme dalam menyamakan pengalaman dan realitas tanpa melalui pengalaman sehingga mereka tidak mengalami kebingungan dalam melihat kehidupan di dunia fana ini meskipun pandangannya tidak rasional.****

Tidak ada komentar: