Opinion Peblika

Opinion Peblika
Di Rumah Ini (desa Liya) Insya Allah Jika Tuhan Meridhoi, Menjadi Ujung Tombak Pergerakan : "Rumah Aspirasi Rakyat Untuk Kebangsaan"

Minggu, 08 Desember 2013

POLLING CALON LEGISLATIF DAN DPD SULTRA DIRAGUKAN

OLEH : ALI HABIU






DPRD PROVINSI SULTRA






KENDARI - Aksi polling yang dilakukan oleh sebuah media cetak  harian terkemuka di sulawesi tenggara,  terbitan sabtu 7 Desember 2013 untuk menentukan calon Legislatif DPR RI,  dan DPD RI  lolos ke Senayan dan Legislatif DPRD Lolos ke Provinsi pilihan masyarakat diragukan kebenarannya. Pasalnya polling tersebut  hanya  berdasarkan jumlah potongan kupon terkumpul yang diperoleh dari masyarakat. Potongan kupon itu  baru bisa diperoleh  jika masyarakat  membeli koran tersebut.
Meski ada yang menganggap cara yang dilakukan media tersebut cukup  baik  untuk melihat sejauh mana  hasil amatan masyarakat terhadap pigur-pigur calon yang dijagokan berinteraksi dengan masyarakatnya, namun ada juga yang menganggap polling  itu bisa saja direkayasa. Soalnya, untuk bisa dianggap lolos  seorang calon bisa saja memborong koran tersebut dan mengambil kuponnya.

"Itu kan bisa direkayasa. Kalau mau kan bisa diborong saja korannya, lalu kirim kupon sebanyak-banyaknya ke redaksi media tersebut. Dipastikan calon-calon ybs itu bisa jadi terfavorit, atau lolos ke kursi parlemen 2014 "kata seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara yang minta namanya tidak disebutkan.

Anggota dewan tersebut juga yakin bahwa polling yang dilakukan hanya strategi bisnis pihak media untuk mendongkrak oplah korannya. Namun akibat polling itu, dia melihat  timbul persaingan yang tidak sehat sesama partai politik.

Demi mengejar predikat favorit atau lolos, pihak semua pihak yang terlibat diduga rela merogoh kantong dalam-dalam untuk memborong koran agar namanya  tercantum dan dianggap menjadi pilihan dari masyarakatnya.

Seorang warga Kendari  menyarankan untuk menilai seorang calon legislatif dan DPD itu  disenangi warganya atau tidak disenangi warganya melalui kupon yang notabene bisa dibeli bebas, tapi berdasarkan jajak pendapat langsung yang dilakukan media bersangkutan ke setiap warga. "Sebaiknya dilakukan jajak pendapat dengan langsung mendatangi warga. Bukan dengan cara membeli kupon. Nanti bisa-bisa para calon yang terlibat bisa borong koran lebih banyak, dia yang jadi favorit atau dinyatakan lolos parlemen 2014. *****

Kamis, 28 November 2013

SURGAISME HUGUA, MENGGELITIK PARA AHLI




OLEH : KAMARUDDIN AZIS



 Dr. Tadjuddin Parenta, MA membedah buku Hugua



Hugua, sosok yang dijuluki Bupatinya Ikan-Ikan dari Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara itu terlihat santai. Sore, tanggal 26 September 2011 itu, dia diapit lima pengamat mumpuni di bidang yang digelutinya. Hugua berbaju hitam, garis oranye. Lengan pendek. Dia siap menunggu aksi bedah dari para ahli asal Universitas Hasanuddin.

Berlatar spanduk bedah buku: “Surgaisme, Landasan Dunia Baru” karya Hugua telah duduk, Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD (Dekan Kedokteran), Dr. Tadjuddin Parenta, MA (pengamat ekonomi), Prof Dr.Jamaluddin Jompa, M.Sc ketua pusat kajian pesisir dan pulau-pulau. Ada pula Prof Dadang Ahmad, P.hD, Pembantu 1 Rektor, Dr. Nunding Ram, M.Ed (Kapus Kebudayaan). Ada ahli filsafat ilmu, lingkungan, kesehatan, kebudayaan dan ekonomi. Formasi yang komplit, jika melihat latar para pembedah.

Dengan berdiri, Hugua menjelaskan alasan lahirnya buku itu karena adanya refleksi pada kegagalan dua pendekatan, liberalisme dan sosialisme. Pada ranah ekonomi, dia menyebut telah terjadi gagal pasar, yang oleh Adam Smith, invisible hands karena melibatkan tangan Tuhan dan telah membawa ketidakberaturan di duna yang berujung pada kerusakan lingkungan. Menurutnya, ada kecenderungan bahwa kalau tidak punya uang, manusia pasti merampok. Atau kedua, pasti meminjam.

Ada dua kutub yang tarik menarik dan membuat hubungan alam dan perilaku manusia menjadi tidak koheren. Dan ini membutuhkan mediasi. Mediasi ini yang oleh Hugua dia sebut Surgaisme, kata kuncinya kebahagian dan hakikat kemanusiaan.

“Adalah sifat manusia untuk selalu punya keinginan, punya istri lebih satu, dari bupati, mau jadi pemimpin provinsi, bahkan negara” papar Hugua yang telah mendapat anugerah sebagai tokoh Inspirasi Indonesia tahun 2010 dari Majalah Bisnis & CSR dan La Tofi Enterprise.

Tapi menurut Hugua itu harus diekstrak secara benar dan diraih di jalur yang benar pula.
Di Buku itu, Hugua menceritakan eksistensi cinta, kerjasama sosial, ikatan-ikatan sosial, termasuk sifat dasar manusia kaitannya dengan eksistensi alam, ada sifat tamak, sifat cinta dan sosial. Ada dua kutub, antara liberalisme dan sosialisme, ada utara, ada selatan.

Buku Surgaisme, secara sederhananya memadukan beberapa pendekatan maupun teori yang telah pernah ada walau tidak dibahas secara detil. Hugua menawarkan satu kompromi dengan pesan kunci, sayangi diri dan sekitar. Bahagiakan diri dan bahagiakan sekitar. Dia menjelaskan kunci kesuksesan dan kebahagian yang datang dari jiwa bahagia,  senang. Kesejahteraan datang dari perasaan dan pikiran, jadi jiwa bahagia lahirkan ragawi bahagia. Intinya penting untuk menyiapkan jiwa bahagia.

Menurutnya, kebahagiaan, adalah fungsi dua variable, and how your spiritual quotions, kepada pembicaraan aspek khilafiah, tingkat tinggi, dan ketika kita bermanfaat pada sekitar.  Itulah esensi buku Surgaisme ini. Termasuk di dalamnya mengesampingkan muatan kapitalisme, dengan banyak bersyukur dan menikmati apa yang ada.


“Sesederhana itu” katanya.
“Jadi ketika anda telah membahagiakan, maka anda akan menjadi terhormat. apapun yang anda lakukan akan menjadi berbeda. Hugua tidak menciptakan Wakatobi, tetap masa depan Hugua. Leadership adalah percontohan”. Katanya.

Menurutnya, penampakan fisik, pakaian bagus adalah dimensi spiritual dan dimensi lainnya adalah thanks to people. Ketika berterima kasih ke orang maka sesungguhnya kita berterima kasih ke alam,  Thank to nature hingga thank to God.
“JIka itu diterima maka tentu kita tidak akan suka membunuh. Apapun” katanya.


“Pelaku bom Solo itu adalah gambaran orang-orang yang tidak punya masa depan” katanya.  Padahal sejatinya manusia sebagai individu harus mencintai diri dan lingkungannya.
Buku ini sekilas terlihat rumit dan sulit dipahami bagi pemula atau yang kurang familiar dengan ideologi atau paham yang yang telah ada. Sehingga oleh Hugua disarankan untuk dibaca secara perlahan dan berulang.
Para Pembedah

Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD menyebut paparan Hugua mengenai diri, lingkungan, kebahagian dan hakekat kehidupan ini sebagai satu inisiatif global movement. Yang menjadi pemberian alam dan sikap global manusia. Ada peluang untuk kembali ke situ. Dalam prinsip biodiversity, memang ada kecenderungan untuk merusak ekosistem keseluruhan.

Namun demikian, menurutnya sesuatu yang tidak dikonkritkan hanya akan menjadi utopis. Mengapresiasi atau tidak diapresiasi apakah itu pikiran dan berevoluasi jangka panjang namun mengubah masyarakat secara aplikatif, maka itu baru benar. Jika tidak, dia hanya akan jadi utopia.

“Kalau prinsip Surgaisme dipertahankan dengan baik dan dijabarkan atau dimanifestasikan maka itu sangat positif. Jika terperangkap dalam birokrasi saja maka itu akan utopia” tandasnya.

“Secara substantif gagasan ini merujuk pada upaya memperbaiki kondisi alam dengan bercermin pada dua kondisi dasar. Ideologi kapitalisme bisa bertahan tapi tidak pernah bertahan dan berasal dari sifat dasarnya. Prof Mubyarto menyebut ekonomi pancasila, karena tidak rakus, dia mahluk sosial. Tapi itu persepsi kita”

“Tapi bagi saya, mau kapitalis, mau sosialis, silakan pemerintah atur, sebaik mungkin. Toh, di China, pun sangat maju. Lebih bagus jelas jenis kelamin daripada hermaprodit” kata prof Irawan.

Di mata Dr. Nunding Ram, di buku ini ada beberapa “kontradiksi interminis”, ada beberapa pernyataan yang kontradiktif.  Secara spesifik dia menyebutkan bahwa seungguhnya cinta itu memberi, not to take. Kita mencintai termasuk ketika menerima ketidaksempurnaan. To give, not to take. Bukan menikmati kecantikan. Tapi mensyukurinya.
Bagi saya yang penting adalah “Moral is the key thing”. Tentang Surgaisme, kita ini sudah berpasang-pasangan. Jika ada Surgaisme maka mestinya ada Nerakaisme, Ada, hedonism, liberalism, sebagai misal, Amerika itu kaya, tapi miskin. Visi Amerika itu salah, terbaik, jangan yang selalu mengacaukan dunia. Terkaya, terbaik, tapi ambil minyaknya orang. Rakus” tandas Nunding.

“Berterima kasih ke Tuhan itu ibadah. Sehingga Tuhan tidak membutuhkan kita, tapi sebaliknya. Itulah mengapa saya mempertanyakan tulisan di halaman 112 yang menyebut kata Tuhan yang bermakna Tuhan butuh kita” katanya.
“Kita sudah melihat banyak fakta, banyak orang kaya tetapi mengalami “kemiskinan spiritual”, merasa kosong jiwanya. Steven Covey, ternyata mengalami emotional touch dengan keluarga yang semakin berkurang. Inilah nilai-nilai kemanusiaan” terang Nunding.

Sementara di mata, Dr. Tadjuddin Parenta, kegagalan ekonomi pasar yang dimaksudkan oleh Hugua melalui penjelasan The Invisible Hands itu tidak pas, karena sesungguhnya dalam ekonomi ada faktor lain yang juga tidak bisa dikesampingkan yaitu ketika ada asumsi-asumsi pada prinsip ekonomi.

Dia menyebut bahwa sejauh ini telah ada modifikasi atau penyesuaian sistem ekonomi liberal di beberapa negara sehingga dianggap tidak pernah final atau hilang.

“Kapitalisme tidak akan hilang karena akan beradaptasi” katanya. Banyak hal-hal yang berkembang bahkan dianggap paham baru semisal Ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila namun ini pun tidak bisa berjalan dengan baik.

Dr. Tadjuddin Parenta, MA membedah buku Hugua (Foto: Kamaruddin Azis)
“Mengenai isi paparan di buku itu, saya sebutkan teori Mindset, apakah betul realitas itu ada? Atau jangan-jangan common perception? Atau sekadar ilusi, menceritakan, apakah itu ada? Hidup ada mainan-mainan?” tanyanya.

Menurut Tadjuddin, ketidakpuasan pada ilmu ekonomi, bahkan saat merujuk ke saintifik, yang melahirkan filsfat materialsme adalah semacam upaya untuk yang bisa dipersepsi oleh pancaindera.
“Teori Adam Smidth yang disebutkan oleh pak Hugua, menyatakan bahwa alam semesta persis arloji raksasa. Pemerintah, kau bisa atur itu, lalu di manami itu Tuhan? Tidak boleh kita memahaminya secara linier” Katanya lagi.

“Bagi saya manusia itu sudah lengkap dan dia menjadi khalifah” ujarnya.
Dia menambahkan pula bahwa banyak contoh yang mestinya menjadi pelajaran bagi kita bahwa yang berlaku di mikro belum tentu berlaku di makro. Pak Tadjuddin kemudian mengambil contoh, para perilaku menabung.

“Ajakan menabung benar pada tingkat mikro tapi tidak berlaku pada makro. Apa jadinya jika semua orang, semuanya menabung?” kuncinya.
“Namun demikian, terlepas dari beberapa hal yang masih perlu dilengkapi, buku pak Hugua ini saya sangat apresiasi karena sangat mencerahkan” paparnya.

Komentar Hugua
Komentar para penanggap yang nyaris menghabiskan waktu hingga dua jam itu diterima dengan sukacita oleh Hugua. Tidak banyak yang ditanggapinya, karena dia sadar poin-poin yang disampaikan itu sangat relevan.

Dia juga tidak menampik adanya kesalahan pengetikan dan tidak tepatnya pemilihan dan penempatan kata di buku setelah 142 halaman ini, walau dia sendiri menyebut bahwa tidak banyak teori yang dipaparnya sebab hanya ingin menggelitik pada pemikir atau ahli yang ada.

Paham Surgaisme hadir untuk melengkapi ideologi yang telah ada sebelumnya seperti kapitalisme dan sosialisme. Menurut Hugua, secara sederhana buku ini menggabungkan variabel kecerdasan material dan kecerdasan spiritual demi rangka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebaba nilai spiritual merupakan penentu nilai material.

Secara teoritikal Hugua mengkombinasikan spritual Quotient (SQ) atas tiga indikator dasar, yakni syukur, thanks to God, terima kasih pada sesame, thanks to people, pada alam, thanks to nature.
“Itulah yang mesti kita konkritkan ke lingkungan atau sekitar” katanya.

“Saya ingin mendengar komentar para ahli mengenai letupan pemikiran melalui buku Surgaisme ini. Saya masih berharap berdiskusi dengan beberapa ahli dari Unhas tersebut. Untuk membuktikan apakah isi buku tersebut adalah merupakan ilusi mimpi-mimpi Hugua atau sebuah peradaban baru ?!

BUKU HUGUAISME DI DANAI APBD WAKATOBI DAN PENGADAANNYA FIKTIF





 SUMBER : KOMITE AKSI



                                      Inllah Buku "Surgaisme Wakatobi" Kini Menjadi Kontroversial



Kamis, 28 November 2012 HMI Komisariat Wakatobi, PMII Komisariat Kab. Wakatobi dan beberapa aktivis lainya yang tergabung di Gempur Wakatobi atau Gerakan Massa Peduli Rakyat wakatobi melakukan aksi unjuk rasa di kantor kejaksaan Negri Kab. Wakatobi  untuk mendesak Kajari Wakatobi untuk tidak tebang pilih memberantas kasus korupsi Pengadaan Buku yang judulnya adalah Bagaimana Menjangkau wakatobi dan Surgaisme, dengan No Kontrak 05/KONT/PPK-URT/SETDA/XI/2010 yang di mana salah satu buku tersebut yang berjudul Bagaimana Menjangkau Wakatobi ternyata fiktif padahal telah dianggarkan melalui dana APBD 2010 dan buku yang berjudul Huguaisme menurut para aktivis Demonstran tidak memberikan kontribusi Pemikiran Kemajuan Daerah selanjutnya tdk membawa asas manfaat untuk masyarakat dan hanya menyinggung Biografi dan Pribadi  Ir. Hugua dan seharusnya tdk di bebankan ke APBD 2010 dan dianggap oleh aktivis demonstran kebijan Ir. Hugua selaku Bupati Wakatobi telah salah menepatkan kebikan tersebut. Dari hasil dialog antara Demonstran dan Pihak Kajari Wakatobi pihak demonstran menyerahkan dokumen kontrak yang diterima langsung Oleh Ka. Kajari Wakatobi.

            Setelah aksi unjuk rasa di kantor Kajari Wakatobi kemudian Massa menuju  Kantor Bupati Wakatobi, di depan kantor bupati wakatobi massa melakukan orasi dan aksi Bakar 2 Buah Buku yaitu Surgaisme dan Lelaki itu hugua.  Korlap Aksi Rahman Hidayah, S.Pi dalam orasinya menyatakan bahwa intisari dari buku tersebut tdk memberikan nilai pengaruh yang baik kepada masyarakat karena ada unsur pelecehan di mana dalam isi buku tersebut  menyatakan bahwa “Ir. Hugua” adalah Bupati Ikan-Ikan dan menolak atas pernyataan bahwa di wakatobi tdk ada kemiskinan padahal 11 bulan yang lalu  ada seorang balita meninggal karena kelaparan yang diakibatkan karena ibu sang anak tersebut tdk mampu membeli makanan untuk anaknya dan buku tersebut harusnya di danai secara pribadi oleh Ir. Hugua bukan dari APBD.

            Setelah aksi di kantor bupati wakatobi massa merasa tdk puas karena tdk ada perwakilan dari pemda wakatobi kemudian menuju dermaga mandati untuk melakukan orasi di bundaran mandati bertepatan dengan kedatangan gub. Sulawesi tenggara, sesaat setelah tiba di bundaran mandati ada massa demonstran lain yaitu Lembaga Waina yang baru datang dari Kajari wakatobi  untuk melakukan presure terhadap beberapa kasus yg telah masuk di Kajari wakatobi aksi tersebut harus dihentikan karena cuaca yang mulai mendung . (Red.Fs)

Kamis, 12 September 2013

INSYA ALLAH JIKA TUHAN MERIDHOI MULAI TAHUN 2014 "KABALI" AKAN BANGKITKAN WAKATOBI MENDUNIA MELALUI KEINDAHAN STRUKTUR ALAM BAIK DI LAUT MAUPUN DI DARAT SERTA BUDAYA MANUSIANYA.



OLEH : ALI HABIU


Saat ini keindahan struktur alam wilayah kepualauan Wakatobi baik yang terdapat di darat maupun di laut serta keindahan budaya manusia dari gugusan pulau-pulau tukang besi tersebut belumlah nampak kepermukaan secara nyata (kecuali struktur laut pulau Hoga) karena hingga saat ini belum ada orang putra daerah asli yang mampu untuk mengangkat kepermukaan nilai-nilainya  untuk kemudian diolah, ditata dan dikembangkan sekaligus dipromosikan keseluruh pelosok dunia.


Terbentuknya kepulauan Wakatobi dimulai sejak jaman tersier hingga akhir jaman Miosen. Pembentukan pulau-pulau di kawasan ini akibat adanya proses geologi berupa sesar geser, sesar naik maupun sesar turun dan lipatan yang tidak dapat dipisahkan dari bekerjanya gaya tektonik yang berlangsung sejak jaman dulu hingga sekarang.

Kepulauan Wakatobi terdiri dari gugusan pulau-pulau utama memliki luas masing-masing pulau sebagai  berikut : Pulau Wangi-wangi 156,5 km2; Pulau Kaledupa 64,8 km2 ; Pulau Tomia 52,4 km2 ; dan.Pulau Binongko 98,7 km2

Berdasarkan Arysio Santos, dalam bukunya "Atlantis The Lost Continent Finally Found" dikatakan bahwa benua yang hilang itu berada di timur jauh dan barat jauh, dan benua yang hilang itu berada di antara  benua Amerika dan Afrika, dan menurut beliau benua itu bukanlah samudra Atliantik yang kita kenal dalam dunia modern sekarang, melainkan benua Hindia (Indonensia sekarang), ia berada di antara dua samudra, yaitu pasifik dan Hindia, kemudian negeri yang bermartabat itu memiliki kesejahteraan yang tinggi, berbudi mulia, "tanah suci" tanah yang keramatkan, masyarakatnya sejahtera, tetapi sekarang negeri itu telah lenyap hanya karena kebobrokan pemimpinnya ketika itu, maka dilanda bencana dasyat dan sampai sekarang negeri itu abadi di dalam lautan, dan tinggal gunung-gunung tinggi yang menjulang, dan kini menjadi daratan yang dikenal sekarang sebagai Indonesia. 

Plato (427 " 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Prof. Santos melihat itu ada di Indonesia, tetapi kalau kita lihat lebih jauh lagi, maka pertemuan dua samudra itu ternyata ia berada di Wakatobi.  Oleh karena itu, Entah sengaja atau tidak sengaja, pemerintah kabupaten Wakatobi menetapkan Visi Wakatobi sebagai "Surga nyata Bawah laut di jantung segi tiga karang dua" merupakan daerah surga yang sejak dulu sudah dikenal dalan berbagai kitab suci agama-agama kuno.

Keindahan bawah Laut Wakatobi, bukanlah hal yang baru, tetapi dalam berbagai naskah kuno dunia, dalam berbagai peradaban di dunia menyebutkan bahwa daerah "Surga itu" merupakan taman-taman yang indah, ditumbuhi bunga-bunga dan segala keindahannya, dan juga dihuni oleh orang-orang yang "suci" orang-orang yang berbudaya dan bermartabat. Tentunya ini membutuhkan penelitian yang lebih jauh lagi, karena negeri Atlantis menurut Prof. Santos Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato"s Lost Civilization adalah negeri yang bercirikan pantai yang indah yang menghadap ke dua samudra.

Tentunya, ini adalah sebuah kebetulan atau disengaja, maka untuk mewujudkan Wakatobi sebagai "negeri Surga nyata bawah laut" diperlukan beberapa persyaratan yang dikemukakaan oleh Prof. Santos tentang manusia yang mendiami negeri surga yang kaya raya itu, bahwa orang-orang yang mensucikan dirinya, melenyapkan nafsunya, terutama untuk kepentingan pribadi dan golongannya, tetapi orang-orang yang mementingkan kepentingan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Mereka itulah yang menghuni daerah “surga” itu. Maka dari itu kita semua harus memperjuangkan dengan saksama bahwa Wakatobi kedepan surganya bukan hanya terdapat di laut tapi juga memiliki surga nyata di daratan kepulauannya, sebagaimana cirri-ciri budaya manusia yang mendiaminya yang telah digambarkan oleh Prof Santos tersebut diatas, tetapi juga ditunjang oleh keberaneka ragam struktur fenomenal alamnya baik yang terdapat di darat maupun dalam ruang-ruang gua-gua alam bawah tanah.

Apa itu Budaya?

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.  Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Sedangkan Kebudayaan didefinisikan oleh M. Jacobs dan B.J. Stern, adalah mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial. 

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

            Pulau-pulau tukang besi yang terdiri dari pulau Wangi-Wangi, pulau Kaledupa, pulau Tomia dan pulau Binongko masa lalu sebelum tahun 1500 masehi adalah merupakan gugusan pulau-pulau yang memeliki pemerintahan tradisional secara sendiri-sendiri yang tidak pernah diatur oleh pemerintahan kerajaan Buton. La Ode Bumbu dalam bukunya Sejarah Budaya Liya (tidak diterbitkan) mengatakan bahwa sejak tahun 538 Masehi sudah terdapat permukiman di pulau Oroho kepulauan wangi-wangi. Kehidupan masyarakatnya saat itu telah memiliki nilai-nilai budaya leluhur yang amat dihormati dan yang diwariskan secara turun temurun. Walaupun belum ada naskah sejarah yang diwariskan oleh pulau kaledupa, Tomia dan Binongko, namun postulat hampir bisa dipastikan bahwa kehidupan masyarakat di pulau-pulau tersebut tidak terlalu jauh beda keberadaannya dengan seperti apa yang terdapat di pulau Oroho, karena keempat pulau-pulau tersebut merupakan suatu gugusan kepulauan yang tidak bisa terpisahkan satu dengan lainnya.

Kepulauan wangi-wangi memiliki struktur keindahan alam yang tak ada bandingnya dengan daerah-daerah lain di dunia baik yang terdapat di laut maupun di daratannya, demikian pula nilai-nilai kebudayaannya demikian pulau yang terjadi di kepulauan Kaledupa, Tomia dan Binongko. Yang baru mendapat resfon dunia adalah pulau Hoga yang terdapat di Kaledupa.

Pesona bawah laut Wakatobi memang salah satu yang terbaik di dunia. Letak Wakatobi yang masuk dalam wilayah Segitiga Karang Dunia membuat tempat ini menjadi surga bagi para penyelam. Bagaimana tidak, Wakatobi memiliki 750 dari 850 spesies koral, jenis karang yang beragam serta makhluk laut yang sudah sulit ditemukan di daerah lain.

Demikian juga budaya Posepa'a, Budaya Honari Mosega dan Makandara Tamburu, Budaya Safara, Budaya Sampea, Budaya Kabuenga, Budaya Hekansoda’a dan lain sebagainya serta benda-benda peninggalan leluhur berupa artifak, benteng keraton Liya, benteng-benteng patua yang terdapat di Kaledupa, Tomia dan Binongko merupakan akulturasi surga nyata didaratan yang masih diperlukan penataan, pengaturan dan promosi sehingga suatu saat dapat dikenal sebagai suatu nilai-nilai peninggalan yang tak ada taranya di berbagai belahan dunia.

Jika kami sebagai Lembaga Kabali Indonesia mendapat kesempatan dan dipercaya oleh masyarakat Wakatobi untuk mengolah, menata dan mengatur semua pranata sistem budaya tersebut baik yang terdapat dalam fenomenal keindahan struktur alam wilayah wakatobi  di laut maupun didaratannya yang belum terjamah selama ini serta keindahan nilai-nilai budaya manusianya yang juga belum bangkit selama ini ;   maka dengan memohon keridhoan Tuhan YME, Insya Allah Kabali akan mulai bekerja secara berkesinambungan membangkitkannya keseluruh pelosok dunia mulai tahun 2014 mendatang. ****