Opinion Peblika

Opinion Peblika
Suasana Foto Galian Tanah Tambang C Tanpa Melalui SRKL dan AMDAL di Wakatobi

Selasa, 03 November 2009

KINERJA ASPAL BUTON BISA DITINGKATKAN : "MELALUI LASBUTAG MODIFIED, PERMUKAAN JALAN BISA TAHAN 10 TAHUN" (BAGIAN PERTAMA DARI DUA TULISAN)


 OLEH : ALI HABIU


Aspal Buton yang dalam perdagangan sering dikenal dengan nama Aspal Batu Buton atau Butas, Buton Mastik Aspal (BMA), Buton Granular Asphalt (BGA) dan dalam praktek umumnya digunakan sebagai bahan pencampur agregat untuk keperluan lapis aus permukaan jalan, dan sampai saat ini dalam pelaksanaannya belum mendapat kinerja yang baik. Para Kontraktor yang bergerak dibidang jalan juga meragukannya, mengingat hasil pekerjaan mereka selama ini selalu mendapat temuan seperti : segregasi, pecah/retak dan lubang-lunbang sebelum usia konstruksi mencapai 3 tahun, akibat kualitas hasil pekerjaan rendah. Dari berbagai formula campuran Asbuton yang telah di jadikan Norma Standard dan Pedoman Manual/NSPM dan mendapatkan rujukan SNI (Standard Nasional Indonesia) atas berbagai temuan dari hasil uji pada Labiratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Bahan Jalan dan Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum untuk digunakan sebagai bahan lapis aus permukaan jalan, para pakar belum juga menemukan kualitas campuran yang sigifikan dapat tahan di atas 10 tahun. Berbagai macam formulasi campuran untuk bahan lapis aus permukaan jalan dari bahan Asbuton yang telah dihasilkan oleh para pakar tersebut antara lain : NACAS/Latasbum (Non Agregate Cold Asbuton Sheet/Lapis Tipis Aspal Buton Murni), AWCAS/Lasbutag (Agregate Weight Cold Asbuton Sheet/Lapis Asbuton Agregate), SCAS/Latabsir (sand Cold Asbuton Sheet/Lapis Tipis Asbuton pasir). Hingga saat ini pada kenyatannya berbagai campuran tersebut setelah dikerjakan di lapangan oleh para kontraktor, postulat pada umumnya belum ditemukan ketahanan lapis aus permukaan jalan di atas 3 tahun. Sehingga eksistensi hasil pekerjaan mereka sangat rawan terhadap temuan oleh para pemeriksa yang datangnya dari unsur BPK, BPKP, Irjen Departemen maupun Badan Pengawasan Daerah. Disamping itu juga jika ditinjau dari segi investasi, setelah dihitung akan diperoleh Benefid Cost Ratio lebih kecil dari satu sehingga pada kondisi demikian ini bila tidak mendapatkan metode lain maka pemakaian Asbuton tidak menguntungkan bagi Negara. Oleh karena itu, untuk menghindari temuan pemeriksa, para Kontraktor sangat enggan untuk mengerjakan sebuah proyek jalan apabila proyek tersebut menggunakan Asbuton sebagai bahan pencampur lapis aus jalan. Walapun Direktorat Jenderal Bina Marga telah mengeluarkan berbagai spesifikasi teknik untuk jenis campurannya serta dalam kontrak ikut ditawarkan pemakaian Asbuton tersebut, tetapi dalam pelaksanaannya banyak Kontraktor diam-diam merubahnya dan menggantikan dengan Aspal Panas (hot mix) ATB (Asphalt Treated Base) atau Hot Roller Sheet Base Coarse (HRS-BC) yang ketahanan konstruksi jauh lebih baik karena campurannya menggunakan bahan asphalt cement (AC) produksi Pertamina. Dengan adanya penggantian konstruksi aspal ini berarti Kontraktor harus menambah suntikan dana dalam satu meter kubiknya sejumlah 300 ribu s/d 400 ribu rupiah, tetapi kontraktor cukup puas mengingat biaya tambahan tersebut bila menggunakan misalnya Lasbutag akan habis dengan sendirinya untuk dipakai biaya perbaikan pada masa pemeliharaan dan biaya intertainmen ketika waktu tim pemeriksa turun ke lapangan. Sekalipun demikian dalam penulisan back up data, kontraktor tetap melaporkan pemakaian Lasbutag sesuai kontrak.

Sudah banyak jatuh korban kawan-kawan para pemimpin proyek yang menangani jalan, dan kasus yang paling banyak terjadi adalah pada instansi Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan. Para atasan langsung disana sangat memaksakan kepada para pemimpin proyek untuk menggunakan Lasbutag, padahal kenyataan di lapangan kostruksi ini yang paling rawan mendapat temuan pemeriksa. Akibatnya banyak unsur pemimpin proyek masuk bui serta kena sanksi pemecatan sebagai PNS lantaran proyeknya gagal. Memang sangat antagonis persoalan Aspal Buton ini, ketika para pakar jalan yang berasal dari Balitbang Bahan Jalan dan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga melakukan uji coba (trial and error) di lapangan pada berbagai ruas jalan tertentu di negeri ini, hasilnya relative cukup baik---meskipun ketahanan konstruksi tidak bisa menyaingi ketahanan konstruksi jika menggunakan aspal minyak (AC), misalnya ATB atau HRS-BC dimana ketahanan bisa mencapai 10 tahun. Sedangkan rata-rata ketahanan konstruksi lapis aus jalan bila menggunakan Asbuton umumnya hanya bertahan relatif 5 tahun saja. Padahal keadaan akan lebih parah lagi bila kontraktor yang melaksanakannya, hampir pada umumnya ditemukan pemakaian Asbuton menghasilkan kinerja konstruksi yang buruk yang mana ketahanan konstruksi lapis aus jalan yang telah mereka kerjakan hanya diperoleh rata-rata 3 tahun saja, setelah itu permukaan jalan sudah kembali rusak.
Dari berbagai forum diskusi ilmiah menyoal masalah Aspal Buton yang pernah diikuti oleh penulis, diperoleh data bahwa hampir semua pakar ahli dibidang aspal yang telah menggeluti berbagai uji coba campuran yang menggunakan Asbuton ini, hingga sekarang belum ditemukan suatu kinerja komposisi campuran yang dapat diandalkan dan bisa bersaing dipasaran, baik kualitas maupun harga jika dibandingkan dengan produk campuran yang menggunakan aspal minyak (AC) produksi Pertamina. Sehingga timbul pertanyaan ; “Apakah memang para pakar dibidang jalan di pulau Jawa yang telah menangani penelitian tentang campuran Asbuton ini telah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan produk campuran yang baik atau hanya kamuflase, mengingat adanya kepentingan politik untuk tidak memakmurkan daerah-daerah Kawasan Timur Indonesia, atau sebaliknya adanya pesanan ekonomi dari pabrik aspal Pertamina di Cilacap” ?!. Hingga saat ini kita belum mendapatkan jawaban yang pasti, sebab belum ada bargaining para praktisi jalan yang berada di daerah ini untuk mencoba menyoalnya dan melakukan riset ekonomi-teknologi untuk menguak tabir persoalan ini.
Secara konseptual teoritik pada dasarnya campuran beraspal adalah suatu kombinasi antara agregat dan Asbuton. Dalam campuran beraspal, Asbuton berperan sebagai pengikat atau lem antar partikel agregat, sedangkan agregat berperan sebagai tulangan. Sifat-sifat mekanis Asbuton dalam campuran beraspal diperoleh dari friksi dan kohesi dari bahan-bahan pembentuknya. Friksi agregat diperoleh dari ikatan antar butir agregat (interlocking) dimana kekuatannya tergantung pada gradasi, tekstur permukaan, bentuk butiran dan ukuran agregat maksimum yang digunakan. Sedangkan sifat Kohesinya diperoleh dari sifat-sifat Asphalten dan Malten yang digunakan. Oleh karena itu kinerja Asbuton untuk perkerasan beraspal sangat ditentukan oleh mutu bahan yang memenuhi syarat dan sifat-sifatnya.
Selanjutnya dilain pihak, masih banyak kalangan Kontraktor pelaksana di daerah ini belum mengetahui secara benar apa sebetulnya Aspal Buton itu, padahal tambang Asbuton ada dipelupuk mata mereka !. Oleh karena itu pada penulisan ini sekalipun mereka telah berpengalaman mengerjakan jalan namun tak ada salahnya untuk dijelaskan kembali bahwa Asbuton ialah batuan yang terdiri dari campuran antara ± 60 % s/d ± 80 % kapur+ fraksi pasir dan ± 40 s/d ± 20 % aspal yang terdapat di pulau Buton. Besarnya tingkat kandungan Asbuton tergantung dari lokasi tambang yang akan di eksploitasi serta kualitas sistem pengolaannya. Untuk tambang yang berasal dari Waisiu, Kabungka, Winto dan Wariti rata-rata memiliki kandungan aspal (Asphalten) antara 16% s/d 35%. Sedangkan tambang Aspal Buton yang berasal dari Lawele memiliki kandungan aspal (Asphalten) yang relative besar bisa mencapai 36% sampai 68%. ***

1 komentar:

Dicky mengatakan...

saya akan mengambil judul TA tentang Asbuton yang akan diaplikasikan untuk Laston-base. Apakah hasilnya akan bagus?